Malam itu, aku sedang dalam perjalanan mengendarai sepeda motorku menuju Jakarta dari Karawang. Tepatnya pada hari Minggu,. 6 Desember 2009 sekitar pukul 22.00. Aku sudah hampir sepertiga perjalanan dari Karawang ke Jakarta. Aku ditemani seorang yang sangat spesial dihatiku (bilang pacar aja susah amat ya?). Karena kebetulan aku dan pacarku bekerja di Jakarta, kita harus pulang setiap minggu malam ke kosan masing-masing, mengingat senin pagi kami sudah memulai aktifitas masing-masing sebagai karyawan (yang rajin :p).
Saat itu kita tengah asik ngobrol berdua, dan sepeda motor ku bawa santai agar lebih menikmati perjalanan dan tidak membosankan. Tiba-tiba sebuah sepeda motor dikendarai seorang bapak dan memboncengi seorang anak muda mendahului kami dengan memboyong sekitar 9 anjing (kira-kira segitulah jumlahnya). Mereka dibawa dengan karung beras, dengan keadaan tergantung, dan hanya kepala mereka saja yang keluar dari karung itu. Moncong mereka pun terikat dengan tali rafia. Bahkan ada satu anjing yang terlihat sangat tersiksa, moncongnya menempel pada knalpot yang panas. Tak heran moncongnya berdarah. (sedih sekali melihatnya).
Tak banyak berfikir aku segera tancap gas dan mengejar sepeda motor tersebut. Terlintas di benakku anjing-anjing tersebut akan berakhir di tempat penjagalan dan menjadi santapan manusia. Ada 2 yang terlintas, antara makanan orang Batak atau orang Manado.
Sepeda motor tersebut berhasil kudahului dan sambil menyelaraskan kecepatan dengan sepeda motor tersebut, aku memberhantikan mereka. Mereka pun berhenti. Tanpa basa-basi langsung kutanyakan mau kemanakah anjing-anjing tersebut dibawa?
"Mau di potong", jawab si bapak santai. Miris sekali mendengarnya.
Terlihat dari anjing-anjing tersebut, ada 3 ekor yang masih berumur 3 s/d 6 bulan, malang sekali jika mereka harus mati di lahap manusia. Kutanyakan apakah bisa kubeli mereka?
"Mau yang mana, cok?" tanyanya.
Bah darimana dia tahu kalau aku ini batak? Tampang batak pun aku tak punya, logat batak pun tak ada, mengingat aku lahir di pulau jawa, hanya darahku saja mengalir jiwa batak (tapi maaf, jiwa pemakan anjing tak ada di darahku).
Aku memilih salah satu dari mereka, tampangnya lucu, mirip Siberian Husky. Sang bapak memberi harga Rp. 50.000 untuk anjing itu. Dan tidak bisa ditawar. Karena katanya dia membelinya Rp. 40.000 dan hanya mengambil untung Rp. 10.000. Bergegas ku ambil anjing jantan tersebut. Dan dari perjalananku yang sudah sepertiga jalan, aku kembali ke rumahku untuk menyimpan anjing itu dirumah.
Di perjalanan, pikirian-pikiran khawatir berkecamuk di otakku. Pertama, mengingat aku sudah punya seekor anjing betina (namanya Popi) berumur 7 bulan dirumahku, aku cemas jika Popi tidak menerima kehadirannya dan akhirnya berkelahi. Kedua, aku khawatir orang tuaku tidak mau menerima anjing lagi, karena selama 5 hari (senin-jumat) aku berada di Jakarta, dan baru hari sabtu, minggu aku dirumah, aku khawatir mereka keberatan mengurusnya selama aku pergi.
Pacarku sempat menghilangkan sejenak rasa khawatirku dengan perkataan yang penuh inspirasi, "He is the lucky one"
Ya betul dia memang satu yang beruntung dari anjing-anjing yang akan dibawa ke penjagalan itu.
Sesampainya dirumah, kedua kekhawatiranku tersebut benar-benar terjadi. Popi berubah menjadi ganas begitu melihat anjing itu. Dan orang tuaku langsung marah-marah. Tentu saja mereka keberatan, mengurusu Popi saja mereka cukup kelabakan. Mengingat usia popi yang masih muda dan ke-aktif-annya tidak usah dipertanyakan lagi.
Tapi aku tak peduli, aku membawa anjing itu ke halaman belakang, jauh dari Popi dan orang tuaku. Kuperiksa tubuhnya, ternyata penuh luka. Di bagian telapak kedua kaki depannya, kulitnya seperti terkelupas. Segera kuambil anti-septik, dan ku teteskan pada kakinya. Betapa miris rasanya saat kuteteskan anti-septik tersebut, anjing itu menangis begitu kencang, nampaknya lukanya sangat parah. Dan tak ayal lagi dia tak sanggup berjalan, karena luka di kedua telapak kaki depannya itu.
Kuberi air putih, karena aku tahu pasti dia haus. Saat baru saja minum beberapa teguk, dia kembali menangis. Penuh tanda tanya kuperiksa kembali bagian tubuhnya. Ternyata moncongnya pun luka berdarah. Aaarrrggghhh!! hatiku sedih bercampur marah. Diapakan sih anjing ini? sampai luka-luka begitu.
Setelah dielus-elus dan kuberi sedikit kasih sayang, dia mau minum lagi sampai habis. Dan segera kurebahkan diatas handuk kering agar dia segera istirahat agar tidak terlalu banyak bergerak, dan tidak menggunakan kakinya.
Mengingat aku harus segera kembali ke Jakarta. Aku kembali pamit pada orang tuaku yang masih terlihat jutek dan kembali melanjutkan perjalanan.
Sebetulnya aku tidak tega meninggalkannya, dan aku pun tak tega melihat kenyataan bahwa Popi dan orangtuaku tidak menerima kehadirannya. Aku sangat berterimakasih jika ada orang yang mau menerimanya dan memeliharanya dengan baik.
Hampir ku lupa, anjing itu kuberi nama Lucky, "Yes, because he is the lucky one". Fotonya akan segera di upload minggu depan. Berhubung aku belum sempat memotretnya tadi malam dan baru bisa pulang kembali kerumah minggu depan.
Comments
He is truly the lucky one bro :)
keep up the good work
Post new comment